Insight · Q&A
Bagaimana penerapan big data analytics di industri manufaktur untuk pengambilan
Jawaban
keputusan yang lebih baik?
Big data analytics di manufaktur memanfaatkan volume data besar yang dihasilkan berbagai sumber, mulai dari sensor mesin, sistem MES, data kualitas produksi, sampai data rantai pasok, untuk mengidentifikasi pola dan wawasan yang tidak bisa terlihat lewat analisis data konvensional berskala lebih kecil atau analisis manual semata. Penerapan praktisnya cukup beragam, mulai dari analisis prediktif untuk memperkirakan kapan sebuah mesin kemungkinan mengalami kegagalan berdasarkan pola data historis sebagaimana sudah dibahas mendalam pada topik predictive maintenance, analisis korelasi antara parameter proses produksi dengan tingkat cacat produk untuk mengidentifikasi akar masalah kualitas yang sebelumnya tidak terlihat jelas, sampai optimalisasi rantai pasok lewat analisis pola permintaan historis untuk perencanaan produksi dan pengadaan yang lebih akurat.
Tantangan utama penerapan big data analytics di manufaktur seringkali bukan soal teknologi analitiknya semata, melainkan soal kualitas dan integrasi data dari berbagai sistem yang mungkin sebelumnya beroperasi terpisah dalam silo masing-masing, sebagaimana sudah dibahas pada topik integrasi ERP dan MES, karena analisis data yang canggih sekalipun tidak akan menghasilkan wawasan berharga kalau data yang dianalisisnya sendiri tidak lengkap atau tidak akurat. Organisasi yang berhasil menerapkan big data analytics secara efektif umumnya memulai dari kasus penggunaan spesifik dengan dampak bisnis jelas dan terukur, ketimbang langsung berinvestasi besar pada infrastruktur analitik tanpa arah pemanfaatan yang konkret sejak awal.
Sumber
Laporan tren analitik data industri manufaktur dari lembaga riset teknologi seperti McKinsey Global Institute dan Deloitte mengenai penerapan big data dalam konteks Industri 4.0.